Jumat, 14 Desember 2012

Pendekar Lingkungan dari Senami. (Menapaki Senami Bersama “Rimba Eco-school”) Season 2.


Rabu, 5-Desember-2012…
Rapat singkat disore yang sedikit cerah itu membahas mengenai hal-hal apa saja yang akan kami lakukan setibanya di senami hari minggu besok (red: 09-12-2012). Setiap orang telah siap dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Matahari hampir tergelincir, waktunya pulang. Meeting is over!
Rasanya sudah tak sabar menunggu datangnya hari minggu, karena sudah satu bulan mungkin kami tidak kesana, setelah kunjungan pertama kemarin sekitar satu bulan yang lalu. Rasa rindu akan suasana yang nyaman, kepolosan anak-anak yang dibalut tawa dan canda, keteduhan hati para orang tua dalam menyambut niat baik kami. Sungguh sesuatu yang benar-benar merindukan…
***
Minggu, 09-Desember-2012…
Pukul tujuh pagi kami semua sudah berkumpul digerbang utama universitas Jambi. Dengan sarapan seadanya yang dibawa oleh salah satu ketua rombongan. Kami berjumlah sebelas orang harus berhadapan dengan kue sebanyak empat buah. Oh, romantic sekali… tak jadi masalah yang penting semua senang. Nuansa kali ini terasa berbeda, karena pada waktu pertama kali kedatangan kami kesana disepanjang perjalanan dihantui rasa takut tak terkira. Tapi untuk yang kedua kali nya ini rasa rindu yang membuncah seolah-olah ingin cepat mendapat obatnya…
Perjalanan panjang nan melelahkan pun dimulai. Kali ini kami pergi menggunakan sepeda motor, tujuh motor pun melaju kencang melintasi rute Jambi-Bulian-Senami. Tidak banyak yang berubah disepanjang perjalanan, masih sama saat pertama berkunjung.
Alhamdulillah, selama diperjalanan kami tak satupun mendapatkan halangan maupun rintangan. Semua lancer, aman dan terkendali. Perjalanan kami menuju desa senami dimulai pukul 07.50 dan sampai di TKP sekitar pukul 10.00, kurang lebih dua jam kami menghabiskan waktu dijalan.
***
Kami memasuki medan tersulit selama perjalanan. Medan yang cukup membuat seluruh tulang rasanya mau patah, terutama tulang pinggul. Sebab Jalan yang kami tempuh berlubang dan hentakan yang dirasakan cukup kuat.
Tapi itu juga bukan merupakan suatu masalah besar buat kami. Itu mudah untuk dilewati. Kira-kira setengah jam kami menyusuri jalan berlubang itu, hingga akhirnya tiba di senami…
Sekitar pukul 09.30 lewat kami sampai dengan selamat di dusun Senami. Rasa lelah, pegal disepanjang perjalanan terobati setibanya kami disana. Udara segar beberapa kali menyentuh kulit dengan lembut dan menghasilkan sensasi sejuk yang benar-benar alami. Beda dengan udara yang ada dikota jambi, yang semakin lama dirasakan semakin panas. Kami istirahat sebentar sekitar 15 menit sekedar melepas penat dan mengisi perut yang terguncang sepanjang perjalanan. Ya… gorengan, itu menjadi pilihan kami. Setelah menghabiskan masing-masing sekitar 2 gorengan, meskipun sebenarnya ada yang sampai menghabiskan 6 gorengan juga hahahahaha… kami minta izin dengan kepala dusun, dan bergerak menuju tempat dimana anak-anak sudah menunggu. Sebelum menemui anak-anak yang sudah sejak tadi menunggu tak lupa kami mengunjungi rumah cik yam, yang sudah sangat kami rindukan. Rumah sederhana itu kini telah direnovasi seadanya dan ada sediktit penambahan luas rumah. Kami bercengkrama dengan cik yam yang siap membuat kami tertawa dan bahkan membuat kami terkejut dengan setiap kata yang terlontar dari mulut nya. Sungguh mengocok perut.
            Kami permisi dengan cik yam, dan bersiap melangkah ke agenda selanjutnya yaitu perkenalan dengan anak-anak Rimba Eco-school senami, menemukan dan mencari bakat mereka dan sekaligus membuka mindset mereka mengenai lingkungan dan pentingnya menjaga alam sekitarnya. Kedatangan kami disambut senyum malu-malu dan muka polos mereka saat melihat orang asing. Mereka hanya menyembulkan kepala mereka dibalik tembok posyandu yang menjadi tempat bermain kami. Kami mendekati mereka, dan alhasil mereka berlari kesana-kemari, kamipun memanggil mereka kembali, dan dengan sedikit terpaksa mereka kembali berkumpul dengan kami.
Awalnya bingung mau berbuat apa. Ya sudah kami putuskan untuk berkenalan, dengan cara memperkenalkan diri satu persatu. Dan setelah itu agar semua ingat nama yang lain salah satu dari kami membuat games konsentrasi. Alhamdulillah semua adik-adik disana bingung dan hanya bisa tertawa saat tiba gilirannya untuk menyebutkan nama kami. Berikutnya, dilanjutkan dengan bernyanyi yang liriknyaa sudah diganti, salah satu contohnya :

“jalan-jalan ke dusun senami, indah-indah sekali kawan. Kiri-kanan kulihat saja masih banyak pohonnya… kiri-kanan kulihat saja masih banyak pohonnya.”

Selanjutnya, kami meminta mereka untuk menampilkan kemampuan mereka, pertama mereka malu-malu dan saling tunjuk satu sama lain, akhirnya salah satu dari mereka memberanikan diri untuk berpantun. Alangkah terkejutnya kami dengan pantun yang diberikan mereka, salah satu contohnya :
           
            “Bukan saya dak beli kain
            Tunggu telunan dari sunda
            Bukan saya tak mau kawin
            Tunggu istrimu sudah janda”

Betapa terkejutnya kami dan tertawa terbahak-bahak, tapi miris mendengar pantun mereka, pasalnya mereka hanya tahu pantun-pantun tentang cinta dan sangat tidak sesuai dengan umur mereka. Ini menjadi pelajaran sekaligus rencana kedepan untuk mengubah mindset mereka mulai dari hal-hal yang kecil, tantangan besar untuk kami. Sangat disayangkan jika generasi seperti mereka sudah terkontaminasi dengan ajaran yang tidak benar dari anak muda disekitar mereka.
            Sejak saat itu kami memberitahu mereka bahwa ketika kami dating lagi minggu depan akan ada perlombaan, perlombaannya bebas bisa membuat pantun, puisi dan lain-lain yang aada hubungannya dengan lingkungan dan alam. Semoga dengan begitu rasa cinta mereka akan lingkungan, alam dan hutan mereka khususnya bisa tercipta sebagai generasi “Pendekar Lingkungan dari Senami.”
Lalu, kami mengajak mereka untuk mulai peduli lingkungan sekitar dengan cara mengumpulkan sampah plastic dan sampah lainnya dan mulai menanamkan pada mereka untuk selalu menjaga lingkungan terutama lingkungan sekitar rumah mereka agar terbebas dari sampah. Hal tersebut disambut antusias dari mereka terlihat dari semangat mereka dalam membantu kami membersihkan lingkungan sekitar posyandu dari sampah-sampah yang menumpuk.
            Saatnya istirahat, kami membagikan mereka beberapa makanan ringan, dan kami makan bersama mereka, sungguh indah rasanya bisa berkumpul dengan mereka yang memiliki semangat yang luar biasa. Pertemuan hari itu selesai dan insya allah kami akan kembali kesana seminggu kemudian…

“Ya Allah, terimakasih engkau telah karuniakan kami nikmat kesehatan sehingga kami bisa kembali menjalankan misi kebaikan demi adik-adik kami di senami bersama tim “Rimba Eco-school”. Bimbing kami ya Allah, agar apa yang kami lakukan bisa berguna bagi masa depan mereka, memang tidak banyak yang bisa kami berikan, tapi sungguh, sedikit yang kami berikan itu merupakan yang terbaik yang bisa kami lakukan. Terus awasi langkah kami, agar kami tidak melangkah keluar dari jalur yang telah engkau tentukan. Hanya engkau yang maha mendengar lagi maha mengabulkan. Kabulkanlah do’a kami…
***
            Semoga pelajaran berharga yang kami tinggalkan dapat membekas dihati mereka, dan tetap mereka jalankan walaupun tanpa kami. Perjalanan pulang kami lanjutkan sekitar pukul 2 siang. Tetapi sebelum pulang kami berhenti dahulu di dusun sebelah yang jaraknya tidak terlalu jauh, untuk mendata adik-adik yang berada disana… 

Senin, 01 Oktober 2012

Desa Senami (untuk SAD) season 1.



Jambi, 29-September-2012 Pukul 19.00 Wib.
            Tugas Paper benar-benar membuat waktu malam mingguku terfokus pada laptop, google dan segala tentang Air. Ya, karena tugas paper ini berhubungan dengan air. Salahku memang mengerjakan tugas pada saat deadline tinggal satu hari lagi. Mataku mulai pedih dan berair karena dari tadi memandang layar laptop. Satu sms masuk mengalihkan perhatianku sebentar. Inilah awal aku menginjakkan kaki di desa Suku Anak Dalam senami. Aku mengiyakan ajakan salah seorang seniorku.
            Aku tidur, dan meninggalkan tugas paperku. Besok pagi-pagi jam tujuh kami harus berangkat. Aku terlelap hingga pagi tiba…

Jambi, 30-September-2012 Pukul 07.00 Wib.
            Sungguh, ini pengalaman pertama dan gak bakal jadi yang terakhir. Karena perjalanan mengunjungi Suku Anak Dalam (SAD) sungguh berarti dan memberi pengetahuan baru dan pengalaman yang luar biasa.
Pukul tujuh pagi, hujan masih menyelimuti seantero kota jambi, ini tidak menyulutkan semangat kami sedikitpun, pukul tujuh lewat lima belas menit kami berangkat menerobos rintik-rintik hujan, tak masalah wong kami pake mobil hahahaha.
Mobil melaju dengan cepat, goncangan demi goncangan kami rasakan kekiri dan kekanan, maklum sopir masih amatiran (Peace pak sopir). Selang beberapa menit kami memasuki jalan yang sangat lurus bahkan jarang ditemukan belokan, tepatnya di Mess. Beberapa jam kemudian kamipun keluar dari neraka jalanan itu, betapa tidak perut yang semula sudah penuh berisi sarapan pagi seperti di mixer sepanjang jalan Mess dan alhasil tak ada yang muntah. Luar biasa, semuanya kuat.
Dalam perjalanan, kejahilan kakak-kakak senior yang sudah pernah berkunjung sebelumnya membuat aku dan teman-teman yang lain merinding, mereka bilang “Kenapa memakai baju rapi sekali? Ntar di taksir sama anaknya loh, dan kalian gak bisa pulang!” Dduaarrr… Aku terdiam dan tersenyum kosong. “Beneran kak? Ya sudah kalo begitu aku sobek saja sedikit bajuku” gurauku menghilangkan rasa takut dan cemas.
Fikiranku masih melayang-layang dan bertanya-tanya tentang keadaan Suku Anak Dalam tersebut, yang aku tahu mereka itu primitive, seperti yang kulihat di tivi-tivi suku primitive itu seram, menakutkan dan…..aaaaaaaaaaaaaa aku secepat kilat membuang jauh-jauh kekhawatiranku yang berlebihan itu.

Selamat datang dikota muara bulian.
 kami sampai di kota tujuan tetapi belum sampai ke desa target utama. Beberapa jam perjalanan kami melewati jalan sempit pedesaan dengan suasana kiri-kanan pepohonan sungguh sejuk dan asri sekaligus menakutkan, rumah penduduk tampak jarang dan hanya ditemukan diawal gerbang dan satu-satu ada didalam. Tak lupa kami menyempatkan membeli oleh-oleh buat mereka terlebih dahulu. Jalanan yang buruk tak menjadi halangan yang menyulitkan, malah banyak tawa terjadi karenanya. Sepanjang jalan masih dengan pemandangan yang sama kiri-kanan pohon, berapa lama lagi nih.
Aduh, aku semakin dag-dig-dug dan cemas, seakan-akan momok menakutkan sedang menari-nari dihadapanku. Aku berusaha menghilangkannya dengan mencoba untuk tidur dan menikmati perjalanan, nihil. Aku tak bisa terlelap. Salah satu temanku bertanya “kak, tempatnya itu dihutan gitu ya?” Tanya nya dengan nada suara gemetar. “nggak kok dek, mereka itu sudah berbaur dengan penduduk” melayangkan senyum terbaiknya. Mendengar jawaban dari kakak itu membuat hati ini sedikit tenang dan bisa menghembuskan nafas lega.. ppiiuuuhhhh…

Pukul sepuluh kami sampai di TKP!
“Loh, disini ya?” tanyaku dalam hati.

Semua turun dari mobil dan kami masuk kerumah kadus (kepala dusun) setempat. Tujuannya yang pasti mau minta izin dan parkir mobil. Hehehehe… setelah proses perizinan selesai kami langsung menuju rumah salah satu warga Suku Anak Dalam. “Assalamu’alaikum…” “Wa’alaikumsalam.. masuk-masuk.” Kata nenek SAD dengan terbatuk-batuk.
            “Masih ingat dengan kami nek? Kawannyo ali” Tanya salah satu kakak coba mengingatkan nenek. “Ooo ali, ingat lah. Lah lamo nian dak kesiko, lah duo bulan nenek ni sakit” sahut nenek. “sakit apo nek?” “biaso lah penyakit orang tuo, sakit pinggang” “mano datuk nek?” “aii ntah kemano tadi tu, keluar tu peginyo”… kamipun menunggu kedatangan datuk. Tak beberapa lama kemudian datuk datang dengan lintingan rokok ditangannya.
            Kami semua menyalami datuk, “Ha, lah lamo nian dak kesiko, ali mano?” Tanya datuk penasaran. “iyo tuk, kami ni banyak kuliah jadi dakdo waktu kosong, Cuma hari minggu bisonyo, bang ali mungkin 2 minngu lagi kesini” Jawab salah satu kakak.
            “Gini tuk, maksud kedatangan kami kesini, kami punyo program baru, di program ni kami nak buat sekolah alam, tapi materi belajar nyo tentang pembuatan bahan obat-obatan alami kek yang dtuk buat tu” Jelas kakak. “o…Bagus tu, jadi ado yang nerusin adat dusun kito ni” kata datuk. “kami tu rencano nak mendata anak-anak yang umurnyo 6-12 tahun, karno kalu terlalu kecik gek dak ngerti pulak dio” tambah kakak. “ha iyo tu betul, bagus lah kalu kamu ado program macam itu, jadi datuk biso mewariskan adat ni dengan anak cucu, anak zaman kini ko lah padek be hape galo, mano tau dio buek obat tradisional” Jelas datuk. “yo lah tuk, kalu gitu kami pamit dulu, mau kerumah cik nyam” “ha yolah, tu cik yam kau ado dimuko rumah” Jelas datuk.
            Kami bergegas meninggalkan rumah datuk dan menuju rumah cik nyam yang persis berada disamping rumah datuk.
            “Cik, apo kabar…” “Alhamdulillah kabar bagus” Jawab cikyam semangat.
            “Mano ali? Mentela ko setiap minggu dio ngambek anyaman ko. Tengok ni la banyak anyaman yang cik buat ha, gek cik bakar semuanyo ni.” Sambil tertawa terbahak-bahak.
            “mungkin duo minggu lagi bang ali kesini cik” Jelas kakak.
            “Cik ni sebenar lah malas nak buek anyaman ko, letih. Tu lah gawe tiap hari ha, duduk dalam rumah, kalu dak tu duduk dib alai luar ko, cik ko mau go nak pegi-pegi” Jelas ciknyam.
Pandangan kami tertuju pada sebuah benda aneh yang tergantung tepat diatas pintu masuk rumah cikyam. “Apo pulak ni cik?” “yang mano? O… itu, aku jugo dak tau, kato keluargo aku tu namonyo durian hantu.” “hah??? Durian hantu cik?” Tanya kami penasaran. “dari durian daun tu yo cik?” Tanya kami. “idak… durian daun lain. Ni durian dak biso dimakan. Cubo la pencet keras macam batu. Katonyo ni untuk penangkal hantu, tengok tu la banyak tegantung dirumah orang tu ha” Jelas ciknyam.
Kurang lebih setengah jam kami bercerita panjang-lebar dengan ciknyam, akhirnya kami pamit dan menuju rumah Eka untuk mencari data teman-teman yang sebaya dengan umur nya. Akhirnya setelah letih berkeliling dibawa eka, kami berhasil mengumpulkan biodata beberapa anak dan member penyuluhan mengenai taman baca sekaligus foto close-up mereka. Capek bukan main.

Kira-kira pukul sebelas lewat sekarang.
            Kami kembali kerumah pak kadus yang kebetulan berjualan makanan dan minuman ringan. Setelah cuci tangan dan sebagainya, kami melepas dahaga dengan meneguk segelas es syrup rasa jeruk. Sungguh nikmat terasa ketika air es masuk melewati kerongkongan yang kering kerontang. Alhamdulillah, kami pulih kembali. Tak lama kemudian adzan dzuhur berkumandang. Bergegas kami tinggalkan warung pak kadus yang baru saja tertimpa musibah. Tertipu uang palsu.
            Kami berwudhu dan shalat berjamaah. Setelah selesai shalat dan berdoa kami istirahat sejenak didalam mushola.

Pukul 13.00 Wib
            Kami pamit pulang dengan pak kadus, datuk, cikyam dan orangtua eka. Sekarang kami berangkat menuju Jambi. Kami semua menyandarkan tubuh pada kursi mobil. Capek luar biasa. Tapi semangatnya tidak kalah luar biasa.
Lapar menyerang…. Karena memang sudah waktunya jam makan siang. Kebetulan salah satu teman ada yang mengundang kami keacara pernikahan kakak nya. Ahaaa, it’s show time! Makan siang gratisss… dan kebetulannya lagi tempat acaranya tidak jauh dari jalan yang akan kami lalui pulang nanti.
Kenyang..kenyang..kenyang..
            Kamipun melanjutkan perjalanan balik ke jambi. Sisa-sisa perjuangan dan semangat kami masih membekas disepanjang perjalanan. Banyak kisah dan tawa yang tercipta sepanjang petualangan ini. Khususnya bagi aku yang memang pertama kali menapakkan kaki di desa ini. Sungguh aku berdecak kagum atas semua yang aku saksikan hari ini. Aku telah salah menilai mereka primitive. Sungguh fikiranku yang kurasa primitive sekarang.

*Percakapan diatas tak seluruhnya sama dengan yang asli, tak ada proses editing, hanya saja ingatan penulis yang terbatas. Mohon maaf.

OSN Pertamina - OSN Pertamaku



            Seperti biasa, aku menghabiskan waktu hanya dengan rutinitas yang itu-itu saja. Dirumah, kuliah, praktikum, pulang, tugas dan tugas. Membosankan sekali. Entah kenapa siang itu langkah ku kekantin terhenti karena ada beberapa teman sibuk berlari entah kemana tujuannya. Dari percakapan kami dia menyebutkan bahwa dia ingin pergi kesalah satu fakultas di universitas jambi ini untuk menemui dekan fakultas FKIP. Loh, kok gak nyambung banget ya? Padahal kan jurusan kita gak ada hubungan nya dengan FKIP dan FMIPA, aku semakin penasaran dan bertambah bingung.
            Untung salah satu teman yang ingin kutanyakan melintas tepat dihadapanku. Aku bertanya mau kemana sih mereka? Oh.. ternyata… mereka ingin bertanya mengenai masalah Olimpiade Sains Nasional Pertamina (OSN-P). aku kira mau bertanya soal apa gitu.. ya sudahlah aku tak memedulikannya. Tapi hatiku terus bertanya-tanya, ayo ikut, kan kalo Olimpiade Cuma ngisi-ngisi soal doang, coba-coba aja ayo… Ah tetap saja aku mengabaikannya.
            Sesampainya dikantin, salah satu teman menjelaskan bahwa OSN kali ini daftarnya online dan Free! Aku terkejut dan hanya bilang siuss? Enelann?.. akhirnya, malamnya aku coba-coba searching mengenai OSN-P 2012. Dapat! Ternyata memang gratis dan dapat baju exclusive yang gratis juga. Wahhh senang banget..
            Akhirnya dengan tekad yang membara dan dengan iming-iming dapat baju gratis aku mendaftarkan diri. Buruk sekali niat hari itu hanya ingin dapat baju gratis. Dan kebetulan jadwal OSN tidak tabrakan dengan jadwal kuliah. Oke pendaftaran selesai.
            Aku mendownload soal-soal OSN bidang biologi tahun sebelumnya. Luar biasaaa, soal dengan level tinggi menurutku. Aku mencoba membaca satu persatu soal. Alhasil dari satu sampai seratus tak ada satupun yang aku mengerti. Aku gigit jari dan hanya memandang kosong soal-soal yang berseliweran di layar laptop. Aku pesimis dan tak semangat.

Beberapa hari menjelang OSN dimulai.
 aku tak ada persiapan sedikitpun. Aku mengulangi membaca soal-soal berulang-ulang. Hasilnya sama saja. Yasudah aku pasrah namun tak menyerah. Aku ingat niat pertamaku hanya sekedar coba-coba. Ya coba-coba.

25 September 2012…
            Pagi itu pukul 07.30 di balairung pinang masak Universitas Jambi. Aku tiba dengan pakaian yang rapi dan sopan, aku masuk kedalam untuk daftar ulang. Yeah.. aku dapat baju. Memalukan memang niat jelekku ini. Aku memasuki ruangan yang baru berisi setengah dan masih banyak bangku kosong, aku mengambil posisi. Serangkaian acara pembukaan telah selesai. Pukul 10.00wib acara yang ditunggu-tunggu pun dimulai.. teng..teng..teng..
            Semua lembaran jawaban dibagikan dan kertas soalnya. Aku menyelesaikan membulati lembar biodata, terlihat mudah. Karena telah terbiasa membulat-bulati pada saat UN dan SNMPTN ditambah lagi dengan UMB aku jadi semakin mahir dalam hal membulati lembar biodata.

It’s show timeeee…
            Aku mulai mengerjakan soal satu persatu dengan semangat dan teliti, disini niat ku mulai berubah, aku serius menjawab soal demi soal dengan teliti. Waktu terus berlalu dan tinggal lima belas menit lagi. Aku telah menyelesaikan kurang lebih 60 soal dari total 100 soal yang ada. Sedikit kecewa memang, karena tidak bisa mengisi secara full, padahal salah satu soal tidak dikenakan nilai minus, ahh aku sedikit kecewa. Tapi tak apalah, toh ini yang pertama, aku belum paham betul mengenai OSN ini. Aku hanya coba-coba.
            Wah… kebetulan sekali, pulang dari OSN tiap peserta mandapatkan nasi kotak satu persatu, kebetulan kami semua belum makan siang. Kami melahap habis nasi tersebut dibawah rindangnya pohon balairung unja. Terasa nikmat sekali. Hari itu benar-benar memberi pengalaman dan semangat baru, tentu saja aku semakin ingin memperbaiki diri agar kedepannya aku bisa lolos seleksi.

1 oktober 2012…
            Aku sama sekali tidak ingat kalau hari ini adalah hari pengumuman peserta lolos tahap pertama OSNP 2012. Aku menjalani hari seperti biasa. Sesampainya dirumah aku membaringkan tubuhku yang letih seharian menjalani aktivitas di kampus. Tiba-tiba saja aku kepikiran untuk menceritakan pengalaman pertama ku ini dalam bentuk tulisan, aku mulai menulis dari awal hingga akhir. Aku membuka file berkas OSNP 2012 dan kubaca dengan teliti “Pengumuman peserta lolos seleksi OSN Pertamina tanggal 1 oktober 2012” aku shock! Sesuai dengan bulan sekarang “Shocktober!” aku langsung mengaktifkan modem dan menuju link osnpertamina.com, aku klik pengumuman dan mencari namaku. Alhamdulillah not found. Aku tersenyum tipis. Lemas dan tak semangat, tapi itu hanya sebentar.
            Dari sini aku benar-benar belajar bahwa niat adalah yang utama, aku menyesal dengan niat semula ku yang hanya untuk coba-coba dan membuatku tak melakukan persiapan yang matang. Aku harus merubah semuanya, terutama niat. Aku tidak boleh lagi berniat hanya untuk coba-coba, toh tidak akan berbuah manis. Sampai ketemu OSN tahun depan, semoga aku dan teman-teman #THPUNJA_2011 berkesempatan mengikuti ajang exclusive itu lagi. Semoga saja. Ganbatte Kudasai :)

Cerita dibalik OSN Pertamina :)