Tapi sebelumnya, kalian tahu donk
apa itu Bokis? Pastinya tahu dong ya.
Apa...
gak tahu??? Hari gini.. mak gue aja tahu. Masak kalian gak tahu! Payah. Oke-oke
it’s not a big problem. Gue jelasin
deh, bokis itu sebenarnya berasal dari bahasa betawi sono (katanya-katanya)
yang mengandung arti : “Bohong”. Pasti tahu bohong dong?? Anaknya pak mamat.
***
“Selamat Datang
Mahasiswa Baru
di
Pengenalan
Kehidupan Kampus”
Spanduk besar nan eksotis itu
terpampang garang di gerbang masuk Universitas. Di tambah aksen api yang
berkobar melambangkan semangat membara senior untuk mengospek kami. Yang
terlintas dibenak gue saat mendengar kata-kata ospek yaitu senioritas yang
kejam dan menakutkan. Meskipun sudah berganti nama dari “Ospek” hijrah ke “PKK”
namun tetap saja ada senioritas disana. Mungkin versinya lebih sedikit.
Sebagai Mahasiswa Baru, tentu gue
canggung banget untuk melakukan segala hal. Bukan karena gue gak tahu atau
apalah. Tapi penampilan gue ini loh! Mulai dari kepala botak, pake tas karung
goni, kaos kaki beda warna, tali sepatu beda warna, yang lebih menyedihkan lagi
foto ala pendekar terpampang dengan
jelas di masing-masing kokarde Mahasiswa Baru. Sungguh sesuatu bukan!
Sekali lagi it’s not a big problem! Gue melangkah ragu-ragu karena didepan berkumpul
sekelompok maru yang tengah dihukum karena mereka telat.
“Woii.. maru. Cepattt!” Teriak sang pemimpi, eh.. sang senior.
“Woii.. maru. Cepattt!” Teriak sang pemimpi, eh.. sang senior.
“Ya ampun.. Ini senior apa preman
pasar sih.” Ucap gue pelan.
“Kenapa kalian pada telat.. hah??”
Kami mulai mengeluarkan argumen
serta alasan-alasan terbaik.
“Ee..
Saya terjebak macet kak.” (Padahal berangkatnya subuh loh, mana mugkin macet!)
“Emm..
Saya kesiangan kak kan semalam tadarusan sampe sahur.”
“Saya
dandan dulu dong kak, kakak mau ngeliat muka saya kusut?” (Ya ampun ni cewek
masih sempat-sempatnya menggoda kakak garang.)
“Kalo
saya Kak, ada peralatan yang tinggal, jadi saya pulang lagi deh.”
“Cukup.
Cukup! Kalian banyak banget alasannya. Yang namanya telat tetap telat. Mengerti
kalian!”
“Mengerti
Kaaaakkkkk..!!” Teriak kami barengan.
Gue
dan yang lainnya melanjutkan perjalanan ke ruang aula yang begitu besar. Disana
acara PKK-nya berlangsung. Tadi itu baru digerbang loh, kami sudah dapat
hukuman. Ditengah perjalanan kami saling menghujat senior satu sama lain.
Saking enaknya ngobrol sambil jalan kaki, kami lupa berkenalan satu sama lain.
Parah! Padahal topik pembicaraan udah ngelantur kesana-kemari mencari alamat jeng..jeng. lupakan!
Kami selesai berkenalan. Yuda, Novi,
Dodi, Dian, Sintia (semuanya bukan nama asli). Oh ya, my name is denny sumargo.
Biasa dipanggil sumar (SUsah MARah).
Yuda katanya sih berasal dari bandung, setelah
gue teliti jelas bohong banget.
Novi
katanya dari palembang, padahal jelas-jelas kelihatan banget medannya bah.
Dodi
asalnya dari aceh, nah yang ini nih bohongnya keterlaluan, kalo dia emang dari
aceh so pasti udah kelelep gelombang tsunami dong ya?.
Dian
terlihat solehah dengan balutan jilbab panjang membentang. Si dian ini yang
pake alasan tadarus tadi. Gak yakin sih. Tapi ketutup sama jilbab. And the last one,
Sintia
saya ulangi SINTIA. Ngakunya blasteran
jerman – indo gitu. Bego banget kalo gue percaya. Ini dia orang yang pake
alasan dandan tadi. Anak muda zaman sekarang.
Sepertinya
Cuma gue yang seratus persen jujur. Gue berasal dari Bali, di Bali biasa
dipangggil Bli Sumar. (sebenarnya juga ngawur – ngidul).
Cukup
perkenalannya.
Aula
Pengenalan Kehidupan Kampus.
Kami
berenam melangkah patah-patah menuju ruang pembantaian. Itu yang ada dibenak
kami sekarang. Kami disambut dengan delikan mata sang senior baik pria maupun
wanita, mereka ini dipilih melalui seleksi ketat loh. Hanya senior yang
memenuhi kualifikasi seperti ; kebulatan atau kebesaran mata diatas normal dan frequensi atau gelombang suara melebihi
kilat yang menyambar, serta ketegangan
urat leher mencapai 100 N/m2, yang boleh jadi pembantai.
Setelah masuk dan
mengikuti kegiatan dengan penuh hikmat dan kesadaran, akhirnya apa yang ada
dibenak gue dan teman-teman gue yang lain mengenai kekejaman para senior
sewaktu ospek ternyata berbanding
terbalik, tegak lurus dan maya. Prosesi PKK kami jalani selama satu minggu,
2 hari untuk Universitas, 2 hari untuk Fakultas dan 3 hari untuk Program Studi
yang dipilih. Menyenangkan dan give me
many experience, and new spirit!
Pengenalan Kehidupan Kampus usai. Hari ini kuliah perdana. Dan ternyata...
kami ber-enam satu prodi. Lengkap sudah. Kami mahasiswa aktif difakultas
kedokteran (sebenarnya tidak), ini hanya salah satu kebohongan yang kami
lakukan saat membeli keperluan praktikum biologi pertama.
“Buk, wortel sama
bengkoangnya setengah kilo ya.” Kata novi.
“Iya tunggu sebentar,”
Jawab Ibu tersebut.
“Tapi Buk, bengkoangnya
gak ada yang masih ada akar gitu ya?”
“Gak ada lah dek, kalo mau
yang berakar cabut sendiri sono dikebun!” Ibuk itu terkekeh.
Sebenarnya yang cari masalah itu ya Ibu ini, oke Bokis is Begin. Saatnya beraksi.
“Ini buat praktikum loh
Buk, bukan buat dimakan!” Jawab Sintia kesal.
“Kalian kuliah dimana?”
(penting gak sih ni Ibu nanya ginian!)
“Kami kuliah di ****
(sensor).” Sambung Yuda.
“ohhh.. anak Ibu juga
disana loh, fakultas keperawatan! Kalian fakultas apa?”
“Bilang aja kedokteran
nov.” Bisik dodi.
“Kami kebetulan kedokteran buk!” Jawab Novi santai.
“Semester berapa?” tanya Ibu ingin tahu.
“Satu Buk!” Gue langsung memotong.
Kami berlima berlalu meninggalkan Novi, karena udah gak tahan mau tertawa
sekuat-kuatnya. Kami pun pulang dengan wajah masih memerah menahan ketawa.
Sebenarnya masih banyak kebokisan gokil lainnya, tapi gak mungkin kan gue muat
satu-persatu. Satu pesan saya :
“DON’T TRY THIS (BOKIS)
AT HOME! Karena Bokis dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi,
gangguan kehamilan dan janin. Waspadalah..waspadalah!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar