Rabu, 02 Mei 2012

3 + 3 = 6 “Pendekar Bokis”



           Kami adalah sekelompok pendekar. Tapi tak seperti pendekar kebanyakan yang bertugas menolong yang lemah, membasmi serangga, eh.. kejahatan maksudnya. “Jauh panggang dari api!” Itulah kami sekelompok pendekar yang hobinya lain dari pada yang lain, istilahnya different! Hobi kami cukup sederhana.. “Bokis!” Ya itu hobi kami. Bahkan sepertinya hobi kami bakal dijadiin salah satu mata kuliah wajib disetiap Universitas. (jangan sampe deh!)
            Tapi sebelumnya, kalian tahu donk apa itu Bokis? Pastinya tahu dong ya.
Apa... gak tahu??? Hari gini.. mak gue aja tahu. Masak kalian gak tahu! Payah. Oke-oke it’s not a big problem. Gue jelasin deh, bokis itu sebenarnya berasal dari bahasa betawi sono (katanya-katanya) yang mengandung arti : “Bohong”. Pasti tahu bohong dong?? Anaknya pak mamat.
***
“Selamat Datang Mahasiswa Baru
di
Pengenalan Kehidupan Kampus”
            Spanduk besar nan eksotis itu terpampang garang di gerbang masuk Universitas. Di tambah aksen api yang berkobar melambangkan semangat membara senior untuk mengospek kami. Yang terlintas dibenak gue saat mendengar kata-kata ospek yaitu senioritas yang kejam dan menakutkan. Meskipun sudah berganti nama dari “Ospek” hijrah ke “PKK” namun tetap saja ada senioritas disana. Mungkin versinya lebih sedikit.
            Sebagai Mahasiswa Baru, tentu gue canggung banget untuk melakukan segala hal. Bukan karena gue gak tahu atau apalah. Tapi penampilan gue ini loh! Mulai dari kepala botak, pake tas karung goni, kaos kaki beda warna, tali sepatu beda warna, yang lebih menyedihkan lagi foto ala pendekar terpampang dengan jelas di masing-masing kokarde Mahasiswa Baru. Sungguh sesuatu bukan!
            Sekali lagi it’s not a big problem! Gue melangkah ragu-ragu karena didepan berkumpul sekelompok maru yang tengah dihukum karena mereka telat.
            “Woii.. maru. Cepattt!” Teriak sang pemimpi, eh.. sang senior.
            “Ya ampun.. Ini senior apa preman pasar sih.” Ucap gue pelan.
            “Kenapa kalian pada telat.. hah??”
            Kami mulai mengeluarkan argumen serta alasan-alasan terbaik.
“Ee.. Saya terjebak macet kak.” (Padahal berangkatnya subuh loh, mana mugkin macet!)
“Emm.. Saya kesiangan kak kan semalam tadarusan sampe sahur.”
“Saya dandan dulu dong kak, kakak mau ngeliat muka saya kusut?” (Ya ampun ni cewek masih sempat-sempatnya menggoda kakak garang.)
“Kalo saya Kak, ada peralatan yang tinggal, jadi saya pulang lagi deh.”
“Cukup. Cukup! Kalian banyak banget alasannya. Yang namanya telat tetap telat. Mengerti kalian!”
“Mengerti Kaaaakkkkk..!!” Teriak kami barengan.
Gue dan yang lainnya melanjutkan perjalanan ke ruang aula yang begitu besar. Disana acara PKK-nya berlangsung. Tadi itu baru digerbang loh, kami sudah dapat hukuman. Ditengah perjalanan kami saling menghujat senior satu sama lain. Saking enaknya ngobrol sambil jalan kaki, kami lupa berkenalan satu sama lain. Parah! Padahal topik pembicaraan udah ngelantur kesana-kemari mencari alamat jeng..jeng. lupakan!
            Kami selesai berkenalan. Yuda, Novi, Dodi, Dian, Sintia (semuanya bukan nama asli). Oh ya, my name is denny sumargo. Biasa dipanggil sumar (SUsah MARah).
 Yuda katanya sih berasal dari bandung, setelah gue teliti jelas bohong banget.
Novi katanya dari palembang, padahal jelas-jelas kelihatan banget medannya bah.
Dodi asalnya dari aceh, nah yang ini nih bohongnya keterlaluan, kalo dia emang dari aceh so pasti udah kelelep gelombang tsunami dong ya?.
Dian terlihat solehah dengan balutan jilbab panjang membentang. Si dian ini yang pake alasan tadarus tadi. Gak yakin sih. Tapi ketutup sama jilbab. And the last one,
Sintia saya ulangi SINTIA. Ngakunya blasteran jerman – indo gitu. Bego banget kalo gue percaya. Ini dia orang yang pake alasan dandan tadi. Anak muda zaman sekarang.
Sepertinya Cuma gue yang seratus persen jujur. Gue berasal dari Bali, di Bali biasa dipangggil Bli Sumar. (sebenarnya juga ngawur – ngidul).
Cukup perkenalannya.
            Aula Pengenalan Kehidupan Kampus.
            Kami berenam melangkah patah-patah menuju ruang pembantaian. Itu yang ada dibenak kami sekarang. Kami disambut dengan delikan mata sang senior baik pria maupun wanita, mereka ini dipilih melalui seleksi ketat loh. Hanya senior yang memenuhi kualifikasi seperti ; kebulatan atau kebesaran mata diatas normal dan frequensi atau gelombang suara melebihi kilat yang menyambar, serta ketegangan urat leher mencapai 100 N/m2, yang boleh jadi pembantai.
            Setelah masuk dan mengikuti kegiatan dengan penuh hikmat dan kesadaran, akhirnya apa yang ada dibenak gue dan teman-teman gue yang lain mengenai kekejaman para senior sewaktu ospek ternyata berbanding terbalik, tegak lurus dan maya. Prosesi PKK kami jalani selama satu minggu, 2 hari untuk Universitas, 2 hari untuk Fakultas dan 3 hari untuk Program Studi yang dipilih. Menyenangkan dan give me many experience, and new spirit!
Pengenalan Kehidupan Kampus usai. Hari ini kuliah perdana. Dan ternyata... kami ber-enam satu prodi. Lengkap sudah. Kami mahasiswa aktif difakultas kedokteran (sebenarnya tidak), ini hanya salah satu kebohongan yang kami lakukan saat membeli keperluan praktikum biologi pertama.
            “Buk, wortel sama bengkoangnya setengah kilo ya.” Kata novi.
            “Iya tunggu sebentar,” Jawab Ibu tersebut.
            “Tapi Buk, bengkoangnya gak ada yang masih ada akar gitu ya?”
            “Gak ada lah dek, kalo mau yang berakar cabut sendiri sono dikebun!” Ibuk itu terkekeh.
Sebenarnya yang cari masalah itu ya Ibu ini, oke Bokis is Begin. Saatnya beraksi.
            “Ini buat praktikum loh Buk, bukan buat dimakan!” Jawab Sintia kesal.
            “Kalian kuliah dimana?” (penting gak sih ni Ibu nanya ginian!)
            “Kami kuliah di **** (sensor).” Sambung Yuda.
            “ohhh.. anak Ibu juga disana loh, fakultas keperawatan! Kalian fakultas apa?”
            “Bilang aja kedokteran nov.” Bisik dodi.
“Kami kebetulan kedokteran buk!” Jawab Novi santai.
“Semester berapa?” tanya Ibu ingin tahu.
“Satu Buk!” Gue langsung memotong.
Kami berlima berlalu meninggalkan Novi, karena udah gak tahan mau tertawa sekuat-kuatnya. Kami pun pulang dengan wajah masih memerah menahan ketawa. Sebenarnya masih banyak kebokisan gokil lainnya, tapi gak mungkin kan gue muat satu-persatu. Satu pesan saya :
“DON’T TRY THIS (BOKIS) AT HOME! Karena Bokis dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Waspadalah..waspadalah!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar